Chocolate War (Hershey’s VS Mars) – Class Notes from Marketing Management Class on Saturday March 8th, 2014

KELOMPOK  5

  1. A.M. Heri Saktiyanto [P056132632.49E]
  2. Febrianto Arif Wibowo [P056132742.49E]
  3. Fitriana Purnamasari [P056132762.49E]
  4. Harya Buntala Koostanto [P056132772.49E]
  5. Husnul Insan [P056132782.49E]
  6. Safitri Larasati [P056132922.49E]
  7. Yogi Syamriadi [P056132972.49E]

Class of  E49  2013 Graduate Student of Master Program in Management
Graduate Program of Management and Business
Bogor Agricultural University

Marketing Management Class PMB 541

Lecturer Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, MSc.
Dr. Ir. Kirbrandoko, MSM.
www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id 
sumarwan@mb.ipb.ac.id

 

Kegiatan Promosi Sebagai Senjata Peningkatan Penjualan

Seperti kita ketahui bersama, bahwa kegiatan promosi merupakan salah satu kegiatan dalam kegiatan pemasaran yang mampu mendongkrak penjualan produk secara signifikan. Kegiatan promosi harus dilakukan secara terencana agar biaya kegiatan tersebut dapat berjalan secara efektif dan efisien serta mampu menjangkau target market yang telah ditentukan. Karakteristik kegiatan promosi yang cenderung berbiaya besar mengaharuskan si pelaku kegiatan promosi tersebut bekerja ekstra keras untuk dapat menumpahkan ide-ide kreatif dan memikirkan jalur promosi yang tepat agar biaya yang dikeluarkan tidak terbuang dengan percuma.

Salah satu pabrik produksi coklat Mars (kiri) & Hershey’s (kanan)

Dalam video war of chocolate yang digambarkan bahwa persaingan yang terjadi adalah persaingan untuk memperebutkan pasar yang sangat besar, banyak sekali kegiatan promosi yang dijalankan oleh perusahaan –perusahaan pesaing yaitu Hershey dan Mars. Mereka berpikir sesuatu yang tidak biasa untuk merebut hati konsumen. Katakanlah saja Mars, mereka tidak hanya beriklan di televisi yang tetapi mereka memikirkan yang jauh lebih dari itu. Ide kreatif untuk melahirkan karakter dari karikatur permen Mars yang dapat bersandiwara dan melakukan apapun menjadi ide unik yang tidak terbantahkan. Ada banyak hal yang dapat dipelajari disana, bagaimana Mars menciptakan karakter coklat yang ceria yang dapat membuat suasana menjadi riang dan penuh dengan kebahagiaan. Positioning ceria yang dilakukan dinilai cukup berhasil karena orang-orang yang membeli permen Mars bermaksud membuat suasana yang lebih fun dan fearless.

Blocking time di televisi yang dilakukan untuk placement film karikatur Mars saat jam prime time juga tepat sehingga dapat disaksikan oleh pasar yang sangat besar. Hal ini juga sesuai dengan semangat kegiatan pemasaran yang mengharuskan bahwa aktifitas pemasaran tersebut harus dapat menjangkau pasar yang besar dan tepat sasaran. Banyak target market yang sedang menyaksikan televisi pada saat jam prime time seperti anak-anak, remaja, bahkan dewasa. Bahkan, keberhasilan dari karikatur Mars ini adalah bagaimana tokohnya dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama dan dapat ditemukan sampai sekarang.

Dalam kegiatan promosi pemasaran salah satu hal yang harus diperhatikan adalah inovasi dan penyesuain terhadap kebutuhan konsumen. Produk dalam arti inovasi harus dapat menyesuaikan dengan selera dan kebutuhan pasar. Dalam video war of chocolate, Hershey melakukan hal tersebut dengan baik, dimana saat perhelatan Oscar dimulai, mereka memanfaatkan momentum tersebut untuk mencari celah melakukan kegiatan pemasaran yang efektif. Mereka melakukan komunikasi dengan inovasi design product packaging. Penyesuaian desain packaging product yang bertemakan Oscar mampu mendongkrak penjualan mereka secara keseluruhan.

Berbagai jenis produk coklat Mars (kiri) dan Hershey’s (kanan)

Tidak hanya berhenti sampai disitu, persaingan dalam bisnis coklat inipun terus berlanjut, dimana Mars dan Hershey juga tidak henti-hentinya memborbardir iklan di televise dengan tayangan-tayangan iklan produknya untuk memperluas segmentasi pasar dan memperbesar target pasar. Sifat media yang membaurkan pesan secara massal dimanfaatkan betul oleh kedua perusahaan yang memproduksi coklat ini. Mereka seolah tidak mau kehilangan momentum untuk memperebutkan kue yang besar di pasar atas konsumen-konsumen coklat yang ada. Coklat Hershey mengandalkan keunggulan produknya yang tidak meleleh saat ditangan namun meleleh di mulut. Keunggulan inilah yang dijadikan Hershey untuk menjadi strategi kompetitif dalam menghadapi persaingan dengan Mars.

Brand mascot dari beberapa produk coklat yang dihasilkan oleh Hershey’s (kiri) dan Mars (kanan)

Kesalahan besar yang dilakukan Mars adalah ketika mereka menolak ajakan kerjasama yang dating dari Universal Studio untuk menggarap film tentang makhluk angkasa yang berteman dengan anak laki-laki, dimana dalam film tersebut terdapat sebuah adegan yang membutuhkan adanya coklat warna-warni milik Mars. Tidak mau menunggu lama, pihak Universal Studio langsung menghubungi dan menawarkan kerjasama terhadap Hershey dengan produknya Reese’s Pieces. Pilihan Hershey dalam bekerjasama dengan Universal Studio dalam pembuatan film ini merupakan langkah yang tepat karena melalui film lah sebuah kegiatan promosi pemasaran yang efektif dapat terlaksana. Film merupakan sebuah media dengan target pasar yang jelas, sehingga dalam penyampaian pesan, komunikasi yang dibangun dapat berjalan dengan efektif, efisien, dan tepat sasaran. Keberhasilan komunikasi ini tentunya akan serta merta dapat meningkatkan penjualan produk secara signifikan.

 

Sumber : Video “War of Chocolate” yang ditayangkan pada perkuliahan Manajemen Pemasaran oleh Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc  tanggal 08 Maret 2014


Posted in Manajemen Pemasaran, Tugas Kelompok and tagged , , , , , by with comments disabled.

Class Notes from Marketing Management Class (E49) MB IPB – Thursday March 6th, 2014

Fitriana Purnamasari

Class of  E49  2013 Graduate Student of Master Program in Management
Graduate Program of Management and Business
Bogor Agricultural University

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Marketing Management Class PMB 541

Lecturer Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, MSc.
Dr. Ir. Kirbrandoko, MSM.
www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id 
sumarwan@mb.ipb.ac.id

(more…)


Posted in Manajemen Pemasaran, Tugas Individu and tagged , , , by with comments disabled.

ACADEMIC PAPER ANALYSIS – “A STRUCTURAL MODEL OF FASHION-ORIENTED IMPULSE BUYING BEHAVIOR”

ACADEMIC PAPER ANALYSIS

A STRUCTURAL MODEL OF FASHION-ORIENTED IMPULSE BUYING BEHAVIOR

Eun Joo Park, Eun Young Kim and Judith Cardona Forney

 

Tugas Mata Kuliah Manajemen Pemasaran

 

Dosen Pengampu :

Dr. Ir. Kirbrandoko, MSM

Disusun Oleh :

Kelompok 5 – E49

A.M HERI SAKTIYANTO – [P056132632.49E]

FEBRIANTO ARIF WIBOWO – [P056132742.49E]

FITRIANA PURNAMASARI – [P056132762.49E]

HARYA BUNTALA KOOSTANTO – [P056132772.49E]

HUSNUL INSAN – [P056132782.49E]

SAFITRI LARASATI – [P056132922.49E]

YOGI SYAMRIADI – [P056132972.49E]

Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis

Institut Pertanian Bogor

Februari 2014

=============================================================================================

SUMMARY REVIEW

LATAR BELAKANG

Pengetahuan tentang pelanggan merupakan kunci dalam merencanakan suatu strategi pemasaran suatu perusahaan, tidak terkecuali pada bisnis ritel. Pelanggan dapat menjadi aset perusahaan yang paling berharga, sehingga perusahaan perlu untuk menciptakan sekaligus menjaga ekuitas tersebut. Perusahaan membutuhkan informasi pelanggan yang efektif dari dalam ruang toko dan mengembangkannya menjadi stimulus terhadap perilaku pembelian produk secara umum. Pengecer membutuhkan informasi tersebut untuk menentukan efisiensi penggunaan sumberdaya yang dirancang dalam menambah penjualan dan sebagai salah satu strategi bersaing terhadap pesaing.

Ketatnya persaingan menurut Berman dan Evans (2001:24) terjadi karena sifat usaha ritel yang sangat sulit untuk melakukan diferensiasi dan entry barrier (hambatan masuk) dalam usaha ritel sangatlah rendah. Kompetisi pengusaha ritel tidak lagi terjadi antar format ritel yang sama namun terjadi antar format ritel yang berbeda. Sebagai contoh supermarket bukan saja harus bersaing dengan supermarket lain, tetapi bersaing juga dengan hypermarket, department store, super store, maupun toko kulakan. Teridentifikasi dengan jelas bahwa peluang maupun persaingan usaha ritel sangat terbuka. Keputusan pembelian konsumen terutama keputusan yang bersifat impulse buying dapat didasari oleh faktor individu konsumen yang cenderung berperilaku afektif. Perilaku ini kemudian membuat pelanggan memiliki pengalaman dalam berbelanja.

(more…)


Posted in Manajemen Pemasaran, Tugas Kelompok by with comments disabled.
Skip to toolbar